POTENSI INVESTASI MENJELANG
KENAIKAN HARGA BBM
Tersebarnya isu kenaikan BBM membuat masyarakat
indonesia khususnya mereka yang berada dalam tingkat ekonomi menengah kebawah
meneluh membayangkan kehidupan yang semakin sulit. Dampak yang ditimbukan dari
kenaikan BBM ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian yang ada di
Indonesia. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan meningkatnya inflasi yang
akan menyebabkan laju kegiatan perekonomian sedikit terhambat sehingga
memugkinkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun. Untuk mengatasi itu semua,
Indonesia harus mampu mempertahankan pertumbuhan investasi.
Dalam
laporan Triwulanan Perkembangan
Ekonomi Indonesia edisi bulan Desember 2012, Bank Dunia
memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,1 persen untuk tahun
2012, sedikit meningkat di tahun 2013 menjadi 6,3 persen. Proyeksi ini
mengasumsikan konsumsi domestik dan pertumbuhan investasi masih bertahan kuat.[1] Selain itu berdasarkan berita dari
surat kabar TEMPO.CO, Surakarta, memberikan kabar yang menggembirakan bagi
indonesia dimana Polandia tertarik meningkatkan nilai investasinya di
Indonesia. Namun, banyak investor asing yang mengeluhkan adanya
pungutan-pungutan liar yang memberatkan. Sudah seharusnya pemerintah dapat
menekan high cost economy agar investor
tertarik untuk meamamkan modalnya dan juga tetap mempertahankan dana yang
investasikannya untuk membiayai kegiatan usaha dan bisnis dan ini
dapat menyerap tenaga kerja sehingga dengan kenaikan BBM yang berdampak
pada semua sektor bisa teratasi.
Untuk
mengurangi dampak kenaikan harga BBM yang akan berakibat terjadinya inflasi dan
pengangguran, pemerintah optimis dapat menekan dampak yang ditimbulkan dari
kenaikan BBM dengan memperkuat investasi. Karena dengan menguatnya nilai
investasi, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Tabel
1. Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Investasi
Keterangan
|
Periode
|
|||||
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
|
Pertumbuhan
Ekonomi Rill (%)
|
4,5
|
5.5 - 5.6
|
6.0 - 6.3
|
6.4 - 6.9
|
6.7 - 7.4
|
7.0
- 7.7
|
Kebutuhan Investasi (Rp Triliun)
|
1.743,7
|
1.894,1
|
2,111.1 - 2,144.5
|
2,348.8 - 2,465.0
|
2,619.9 - 2,788.4
|
2,939.2 -3,168.8
|
sumber : Kerangka Makro : Sasaran
dan Target Pembangunan
RPJMN 2010 – 2014[2].
Tabel diatas menunjukkan bahwa
kebutuhan investasi mengalami peningkatan setiap tahunnya. Semakin besar
kebutuhan investasi terpenuhi sesui target maka pertumbuhan ekonomi riil dapat
tumbuh dengan sangat baik. Dan target pertumbuhan ekonomi riil bisa tercapai
sejalan dengan terpenuhinya kebutuhan investasi maka dapat dipastikan bahwa
angka pengangguran dapat diturunkan. Besarnya pembiayaan yang dibutuhkan
pemerintah yang tercatat di APBN hanya sebesar Rp 220 triliun (11,62%),
sehingga pemerintah membutuhkan pembiayaan dari sektor swasta sebesar RP 674,1
triliun (88,38%). Pembiayaan tersebut
diharapkan dapat ditutupi dari para investor baik dari dalam negeri maupun dari
luar negeri yang bersedia berinvestasi. Untuk meningkatkan pertumbuhan
investasi ditengah isu kenaikan harga BBM yang diiringi dengan kenaikan harga-harga
barang dan jasa yang juga membentuk tingkat suku bunga tinggi, pemerintah
mengambil kebijakan dengan menurunkan tingkat suku bunga. Faktor tigkat suku
bunga sangat penting bagi pertumbuhan investasi. Walaupun terdapat hubungan
negatif karena antara jumlah investasi dan tingkat suku bunga berbanding
terbalik. Jika suku bunga turun, maka jumlah investasi akan meningkat, dan
begitu juga sebaliknya.
Disamping itu juga, pertumbuhan
investasi akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebab
suatu proyek investasi akan menghasilkan pendapatan. Jadi, meskipun dampak
inflasi dari kenaikan harga BBM dapat menngakibatkan menurunnya investasi dan
pendapatan GDP riil tetapi semua itu tetap bisa diatasi dengan menyeimbangkan
pada sektor perekonomian yang lain. Sedangkan bagi masyarakat dalam rangka
menghadapi kenaikan harga-harga yang timbul dari dampak kenaikan BBM dapat
melakukan langkah-langkah yang bijaksana yaitu melakukan investasi yang tepat.
Dimana investasi pada sektor yang tidak terlalu terjangkau oleh dampak inflasi
secara signifikan, seperti investasi pada emas atau bisa investasi pada
reksadana yang memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan investasi pada
Bank.
[1] http://setkab.go.id/berita-6988-bank-dunia-perkirakan-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2013-capai-63-persen.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar